Kamis, 17 Oktober 2013

Pemikiran Hermeneutic Martin Heidegger

1.1.    Latar Belakang
Problematika mendasar dalam mengkaji sebuah teks adalah problema penapsiran, baik teks historis maupun teks keagamaan—terutama Kitab Suci. Yang terpenting dari semua itu adalah bagaimana agar problema tersebut tidak mengacaukan relasi antara penafsir dengan teks. Relasi antara penafsir dan teks ini adalah masalah serius dan merupakan pijakan awal bagi para filosof hermeneutic. Hal ini adalah aspek yang paling banyak dilupakakan dalam berbagai studi sastra, sejak era Plato hingga jaman modern. (Nasr Hamid Abu Zayd; 2003; hal. 33)


 
Sebeleum kita melangkah lebih jauh pertama-tama kita harus memamhami terlebih dahulu apa itu hermeneutic. Jika kita mendengar kata hermeneutic, maka pikiran kita akan diarahkan pada nama dewa dalam mitologi Yunani, yaitu dewa Hermes. Hermes bertugas menyampaikan pesan dari pada dewa kepada manusia, sehingga dapat dikatakan, ia tidak hanya mengumumkan kata demi kata, melainkan juga bertindak sebagai penterjemah yang membuat kata-kata para dewa dapat dimengerti dan bermakna bagi manusia. Kita juga sering menyebutnya sebagai tafsiran. Hermeneutic secara konsekuen terikat pada dua tugas yaitu memastikan isi dan makna sebuah kata, kalimat, teks dan lain sebagainya, serta menemukan intruksi-intruksi yang terdapat di dalam bentuk-bentuk simbolis. (Josef Bleicher; 2003; hal. 5)
Hermeneutik berarti interprestasi. Kadang hermeneutic  berkaitan dengan teori  mengenai interprestasi sebuah teks dengan benar. “Hermeneutic” dan “interprestasi” berasal dari akar kata Yunani yang sama. Interprestasi lebih umum digunakan dari pada hermeneutic, kita menggunakan interprestasi dalam berbagai bidang study, seperti interprestasi dalam sebuah novel, puisi, permainan dan film. Dan kita juga menggnakan interprestasi untuk memahami sebuah kitab suci. (Lawrence K. Schmidt; hal. 1)
Hermeneutik adalah istilah yang telah ada sejak dahulu  dan pertama kali digunakan oleh berbagai kelompok study teologis untuk menyebut sejumlah kaidah dan aturan-aturan standar yang harus diikuti oleh seorang penafsir untuk dapat memahami teks keagamaan (Kitab Suci). Dalam hal ini hermeneutic menjadi berbeda dengan tafsir [Inggris: exegesis]. Jika exegesis  adalah tafsir itu sendiri dengan berbagai rinciannya yang praktis, maka hermeneutic lebih cenderung pada teori penafsirannya. Pengertian hermeneutic seperti ini muncul sejak tahun 1654 M, dan terus berlaku hingga sekarang, terutama dikalangan Protestanisme. (Nasr Hamid Abu Zayd; hal. 33-34) Beberapa buku dalam bahasa Inggris mengenai hermeneutic lebih pada konteks teologi . Martin Heidegger, yang baru-baru ini menerbitkan kumpulan essay, mendiskusikan mengenai karakteristik hermeneutic menurut pemikiriannnya, baik dulu maupun sekarang.

1.1.       Pembatasan Masalah
Pada makalah ini pembahasan akan di batasi hanya pada “Pemikiran Hermeneutic Heidegger”
1.1.       Perumusan Masalah
Dari pembatasan masalah di atas, maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Apa latar belakang pemikirian dari Martin Heidegger?
2.      Bagaimana Pemikiran Hermeneutic Martin Heidegger?
3.      Apa tujuan dari hermeneutic Martin Heideger?
2.1.    Riwayat Hidup
Akhir abda ke delapan belas adalah masa dimana masyarakat industry modern berkembang dan desa-desa ditinggalkan oleh para penduduknya untuk hidup di kota. Pada kondisi soial masyarakat sperti itu Martin Heidegger lahir. Martin Heidegger lahir di Messkirsch, Jerman, tepatnya pada tanggal 26 september 1889. Heidegger dilahirkan di sebuah keluarga pendeta dan diharapkan dia kelak akan menjadi seorang pendeta juga. Masyarakat tempat Heidegger lahir adalah masyarakat yang konserpatif, hidup mereka didasarkan pada ekonomi pertanian yang mengutamakan hirarki, pemilik tanah, buruh dan para pemuka agama.
Keluaraga Heidegger tidak cukup kaya untuk mengirimnya ke universitas dan ia membutuhkan beasiswa. Untuk maksud tersebut ia harus belajar agama. Semasa sekolah menengah atas ia bersekolah di Freiburg Jesuit Seminary. Pada tahun 1909 ia mendapat beasiswa dari gereja sehingga dapat melanjutkan ke Freiburg University.

4
 
Meskipun Freibuarg adalah sebuah propinsi yang kecil dan agrari, namun merupakan penghubung ke dunia lain, yaitu modernitas: kota metropolitan, trasnportasi yang maju dan komunikasi (telepon dan lain sebagainya), industrialisasi dan mekaniksasi (system buruh yang baru dan bentuk baru socsial masyarakat).
Heidegger pertama kali mempelajari mengenai teologi. Namun di tahun 191, dia keluar dan sekolah kependetaan dan mengambil studi matematika, dan kemudia filsafat—sejarah dan khususnya epistomologi, metafisika, logika, etika dan yang lainnya. Dengan mengambil studi di bidang filsafat, Heidegger tertari dengan pertanyaan mengenai apa itu “ada”?
Tahun 1916 Husserl tiba di Freiburg sebagai professor filsafat. Kemudian dari tahun1919 sampai 1923 Heidegger menjadi assisten Husserl. Husserl merupakan pendiri dari aliran filsafat penomenologi modern.
Di tahun tersebut juga Heidegger menikahi istrinya yaitu Elfrida Fetri. Pernikahannya dengan Elfrida Fetri sedikit banyak mempengaruhi pemikiran Heidegger. Dimana setelah menikahi istrinya, yaitu sekitar tahun 1918 Heidegger mengalami krisi keimanan. Istrinya adalah seorang pengikut Luther dan sedangkan Heidegger adalah seorang katolik.
Keterlibatan Heidegger dengan partai Nazi Jerman dianggap bahwa tulisan-tulisan Heidegger mendukung kekejaman Hitler. Sampai akhir hayatnya Heidegger tidak pernah jelas keterlebitan Heidegger denga partai Nazi Jerman. (Jeff Collins & Howard Selina; 2001)
2.2.    Latar Belakang Pemikiran
Heidegger mulanya adalah seorang pengikut fenomenologi. Kaum fenomenologi menghampiri filsafat dengan berusaha memahami pengalaman tanpa diperantarai oleh pengetahuan sebelumnya dan asumsi-asumsi teoritis abstrak. Edmund Husserl adalah pendiri dan tokoh utama aliran ini.sementara Heidegger adalah mahasiswa dan sekaligus asistennya. Hal ini lah yang mempengaruhi pemikiran Heidegger.  (Rifqi K. Anam) Heidegger menjadi tertarik mengenai pertanyaan “Ada”. Karyanya yang terkenal Being and Time dicirikan sebagai sebuah karya fenomenologis. Gagasan tentang ada berasal dari Parmenindes dan secara tradisional merupakan salah satu pemikiran utama filsafat Barat. Persoalan tentang keberadaan dihidupkan kembali oleh Heidegger  setelah memudar karena pengaruh tradisi metafisika Plato. Heidegger juga mengkritik Descrates “aku berpikir, maka aku ada”. Menurut Heidegger baigaman seseorang bisa berpikir, apabila dia tidak ada?. Maka, kalimat yang tepat bagi Heidegger adalah “Aku ada, maka aku berpikir”.
Heidegger mengarah pada metakritik atas kritik-kritik Kant, Heidegger menganggapnya sebagai sebuah tugas penyelidikan yang lebih bersifat ontologism dibandingkan logis. Konsep fundamental ontologis Heidegger menyediakan sebiah re-orientasi yang utuh dan sebuah solusi yang jauh lebih radikal dengan mengembangkan sejumlah  Existtentialien (eksistensiale-eksistensiale) yang, dalam hubungannya dengan “kategori-kategori khas ada bagi entitas-entitas yang karakternya bukan Dasein”, “menjadi dua kemungkinan dari karakter-karakter Ada” (Josef Bleicher; hal. 141)
2.3.    Pemikiran Hermenutika
Hakikat eksistensi – menurut Heidegger—melampaui dan berada di atas kesadaran subjektifitas. Karena kesadaran ini bersifat historis dan sekalipun mulai mempersepsikan subjektivisme bagi eksistensi, maka ia merupakan pemahaman yang tidak henti. Terdapat indikasi – dihubungkan dengan hermenutik—bahwa Heidegger menganggap hermenutik sebagai fenomena (hermeneutic of Facticity) dengan segala dimensinya yang asli. Ia menganggap bahwa tugasnya dalam buku Being and Time adalah menjelaskan hermenutik eksistensi. Tetapi Heidegger membatasi filsafat fenomenologinya dan ia kembali pada sumber Yunani untk istilah fenomenologi dan memandangnya disusun oleh dua unsure, phenomenon dan logos. Bagian pertama menunjuk pada “sekumpulan yang nampak karena cahaya siang” atau “objek yang terlihat karena ada cahaya”. Kejelasan atau penampakan bagi objekini tidak mesti berinteraksi dengannya atas dasar bahwa ia menjadi unsure kedua yang menunjukan pada objek yang lain dibelakangnya. Ia bukanlah penampakan dari berbagai indikasi objek, tetapi nampaknya objek sebagaimana adanya. Dengan kata lain, eksistensi objek itu bukanlah unsure kedua—atau manifestasinya dalam persepsi—melainkan objek itu sendiri, tetapi ia merupakan hakikat aslinya. (Nasr Hamid Abu Zayd; hal. 57)
Berangkat dari hal di atas, dalam Ontology— Hermeneutics of Facticity. Heidegger merumuskan proyek penyelidikan fenomenologis yang ia sebut sebagai “hermeneutic of facticity”. Heidegger mengunakan istlah ontology bagi proyeknya. Ontology dalam pemikirian Heidegger  tidak dimaksud untuk mempelajari Ada dalam arti metafisika tradisonal. Heidegger ingin kembali pada Ada yang paling asli ketika Ada belum disalahpahami. Ada Heidegger bertolak dari “ada” partikuler yang menanyakan Ada. Ada partikuler tersebut dinama Dasein. Jadi ontology disini dimaksudkan sebagai kajian yang bertolak dari Dasein.
Daseinyang secara harfiah berarti “ada-di-sana” memiliki makna “a being-in-the-world, capable of being with itself (at-home-in), as well as with others (there involved in), for a period of temporal spatial duration.” (Richard E. Palmer; hal. 128) kehadiran Dasein tidak bersifat statis dan konstan tetapi bersifat dinamis. Dasein memiliki sebuah kehidupan yang disebut Heideger sebagai faktis (factical). Bagi Heidegger, Dasein sebagai “ada” yang faktis berarti ke-di-sana-an Dasein berada dalam temporalitas waktu tertentu. Jadi ontology yang dimaksud Heidegger disini adalah sebuah penyelidikan mengenai kehidupan faktis Dasein sebagai “ada”particular dalam temporalitasnya. Penyelidikan ini ia sebut sebagai hermeneutic faksitas. Dalam hal ini, Heidegger melakukan pengubahan secara mendasar tidak hanya pada disiplin ontology tetapi juga bidang hermeneutic denga mengganti objek penyelidikan yang semula bersifat konstan dan statis dengan sesuatu yang bergerak dalam temporalitas.
Contoh fenomena ini adalah hermeneutic . bidang hermeneutic dengan menguraikan perjalanan sejarah dimana hermeneutic didefinisikan dan didefinisikan ulang sejak masa klasikgga sekarang . artinya hermeneutic bahwa pemahaman tidak didasarkan pada berbagai kategori dan kesadaran kemanusiaan. Tetapi muncul dari manifestasi-manifestasi objek yang kita hadapi yang berupa kebenaran yang kita persepsikan—pahami. Manusia,dalam eksistensinya dan atas dasar jangkauan eksistensinya ini menemukan pemahaman terbatas terhadap hakikat eksistensi yang sempurna.  Pemahaman ini bukanlah pemahaman yang stabil, tetapi pemahaman yang terbentuk secara historis dan berkembang dalam menghadapi berbagai fenomena. Eksistensi manusia menurut pemahaman ini merupakan praktek berkesinambungan dalam memahami berbagai fenomena dan eksistensi tersebut sekaligus.
Dengan demikian fenomenologi menjadi hermeneutic. Dan hermeneutic-- praktek pemahaman –menjadi eksistensi. Pemahaman adalah kemampuan untuk mempersepsikan berbagai kemungkinan eksistensi bagi individu dalam konteks kehidupannya dan eksistensinya di dunia. Pemahaman bukanlah potensi atau bakat untuk merasakan pemahaman pribadi lain, sebagaimana pemahaman bukanlah kemampuan untuk mencerna makna berbagai ekspresi hidup yang dalam. Pemahaman bukanlah sesuatu yang dapat dihasilkan atau dimiliki, namun merupakan salah satu bentuk eksistensi di dunia ini, atau satu elemen yang mendasari dunia ini. Karean inilah--dari segi eksistensi—pemahaman adalah dasar dan yang mendahului segala aktifitas eksistensialis (menjadi atau being). Fenomena alam dan ketersingkapannya hanya terjadi dalam bahasa (pembicaraan).
Secara alami teks tiadaklah dianggap sebagai ekpresi dari “kebenaran internal” sebagaimana syair tidak mengungkapkan sisi-sisi internal kepada kita. Tetapi lebih tepat dianggap sebagai pengalaman eksistensial. Teks merupakan keterlibatan dalam kehidupan “sebagaimana pengalaman ekistensi” yang melampaui subjektivitas dan objektivitas.
Dalam pemahaman dan interprestasi terhadap teks , kita tidak berawal dari kekosongan, tetapi kita mulai—sebagaimana pemahaman eksistensi—dari pengetahuan awal tentang teks dan jenis-jenisnya. Bahkan mereka yang tidak memiliki konsep adanya eksistensi seperti pengetahuan ini atau menyangkalnya, juga mereka mulai dengan gambaran bnahwa teks ini misalnya merupakan lirik. Disisi lain, kita tidak menemukan teks diluar bingkai ruang dan waktu, tetapi kita menemuinya dalam situasi yang terbatas. Kita tidak menemui teks dengan keterbukaan yang statis, tetapi kita menemuinya dengan saling mempertanyakan. Pertanyaan seperti ini merupakan dasar eksistensi dalam memahami teks, kemudian menginterprestasikannya secara sempurna sebagaimana persepsi kita terhadap eksistensi yang sempurna dengan eksistensi subjektif kita, maka eksistensi subjektif itu juga yang menjadi dasar pemahaman kita terhadap ekistensi alam semesta.
1.1.       Kesimpulan
Heidegger ingin mengungkapkan bahwa ada bentuk pemahaman yang lebih primordial dari pemahaman intelektual, yaitu sebuah pemahaman yang dibentuk oleh situasi dan kondisi yang melatarbelakanginya. Pengalaman tersebut lebih bersifat praktis ketimbang epistomoligis bentuk pemahamn ini dapat digunakan dalam penyelidikan kehidupan sehari-hari. Relasi manusia dengan dunia pertama-tama bukanlah relasi pemahaman intelektual. Dalam duania keseharian, memahami palu bukanlah mengetahui apa eseensi dari palu (know what) tetapi tahu bagaimana menggunakan pal (know how. Sebuah meja keluarga berada disebuah ruangan tidak benar-benar diperhatikan oleh keluarga yang memilikinya selain sebagai tempat untuk meletakan sesuatu. Baru setelah palu mengenai tangan kita, saat kita gunakan , kita benar-banar sadar akan kehadiran palu. Juga baru setelah sebuah meja tidak bisa digunakan entah karena rusak atau kotor, si pemilik memperhatikan meja tersebut. Hal tersebut menunjukan adanya sebuah pra-struktur (fore-structure) dalam diri manusia yang berasal dari situasi eksistensial patikular yang membentuk pemahaman manusia dan menjadi kerangka dan parameter dalam setiap penafsir.

Heidegger tidak memaksudkan bahwa dengan adanya pra-pemahaman yang menentukan setiap penafsiran kita, maka kita akan terkurung oleh prasangka kita sendiri. Hermeneutika Heidegger justru menunjukan sebaliknya. Tujuannya adalah untuk memberikan penjelasan atau mengekplisitkan adanya struktur pra-pemahaman yang terberi dalam sejarah. Heidegger denga kata lain ingin menyingkapkan apa yang implicit dalam setiap penafsiran kita. Usaha inilah yang disebut sebagai hermeneutika.

1.2.       Kritik dan Saran
Heidegger menempatkan hermeneutika sebagai destruksi metafisika tradisional yang melupakan Ada yang menyembunyikan diri. Dan dengan demikian proyek fenomenologi Heidegger, yang ia beri nama hermeneutika faktisitas menjadi sebuah ontology karena memberikan Ada mewahyukan dirinya dalam dimensi tampak dan tak tampaknya. Tapi hal ini membuat hermeneutika Heideger tidak memiliki struktur metedologi yang jelas dan tersusun dengan rapi. Sehingga hermeneutikanya sulit digunakan dalam penulisan tafsir. 
DAFTAR PUSTAKA


Bleicher, Josef. Hermeneutikan Kontemporer. Yogyakarta: Pajar Pustaka Baru, 2013.
Farid Esack. Membebaskan yang Tertindas. Bandung: Mizan Meedia Utama, 2000
Hamid Abu Zayd, Nasr. Al-Quran, Hermeneutik dan Kekuasaan. Bandung: RQiS, 2003
Jeff Collins & Howard Selina. IIntroduction Heidegger. Canada: Pengeuin Books, 2001
Richard E. Palmer. Hermeneutic. Evanstone: Northwestern University Press, 1969.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar